Sabtu, 20 Juli 2013

Kajian Kitab Safinatun Naja - 6

(فصل) أركان الصلاة سبعة عشر: الأول النية، الثاني تكبيرة الإحرام، الثالث القيام على القادر في الفرض، الرابع قراءة الفاتحة، الخامس الركوع، السادس الطمأنينة فية، السابع الإعتدال، الثامن الطمأنينة فيه، التاسع السجود مرتين، العاشر الطمأنينة فية، الحادي عشر الجلوس بين السجدتين، الثاني عشر الطمأنينة فية، الثالث عشر التشهد الأخير، الرابع عشر القعود فيه، الخامس عشر: الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم، السادس عشر السلام، السابع عشر الترتيب.


Fasal tentang rukun shalat itu ada 17, yaitu :
  1. Niat
  2. Takbiratul Ihram (takbiratul ihram dilakukan bersamaan dengan niat)
  3. Berdiri bagi orang yang mampu pada shalat fardlu
  4. Membaca surah al-Fatihah
  5. Ruku'
  6. Thuma'ninah (berdiam kadar lamanya  membaca tasbih=subhanallah) didalam ruku'
  7. I'tidal
  8. Thuma'ninah didalam i'tidal
  9. Sujud dua kali
  10. Thuma'ninah didalam sujud
  11. Duduk diantara dua sujud
  12. Thuma'ninah didalam duduk diantara dua sujud
  13. Tasyahud akhir
  14. Duduk pada tasyahud akhir
  15. Bershalawat kepada Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam
  16. Mengucapkan salam
  17. Tertib (berurutan)
(فصل) النيه ثلاث درجات: إن كانت الصلاة فرضا وجب قصد الفعل والتعيين والفرضية وإن كانت نافلة مؤقتة كراتبة او ذات سبب وجب قصد الفعل والتعيين، وان كانت نافلة مطلقة وجب قصد الفعل فقط.
الفعل: أصلي والتعيين: ظهرا أو عصرا والفرضية: فرضا.


Fasal tentang niat itu ada 3 derajat/jenisnya, yaitu :


1.  Apabila shalat fardlu maka wajib qashdul fi'li (menyengaja melakukan shalat), ta'yiin (menentukan shalatnya), fardliyyah (mengucapkan kefardluannya).


Penjelasan : contohnya seperti : ushalliy fardladh dhuhri lillaahi ta'alaa (aku menyengaja melakukan shalat fardlu dhuhur karena Allah). Kalimat "aku menyengaja" adalah qashdul fi'li. Kalimat "fardlu" adalah fardliyyah. Kalimat "dhuhur" adalah jenis shalat (ta'yiin).



2. Apabila shalat nafilah (sunnah) ada waktunya seperti shalat rawatib atau shalat yang memiliki sebab maka wajib qashdul fi'li (menyengaja melakukan shalat) dan ta'yiin (menentukan shalatnya) saja.


Penjelasan : contohnya seperti ushalliy qabliyatadh dhuhri lillaahi ta'alaa (aku menyengaja melakukan shalat sebelum dhuhur karena Allah). Kalimat "aku menyengaja" adalah qashdul fi'li. Kalimat "shalat sebelum dhuhur" adalah ta'yiin (jenis shalat). Demikian juga shalat sunnah lainnya seperti shalat gerhana matahari, gerhana bulan, shalat istikharah, shalat tahyatal masjid, shalat tahajjud, shalat tarawih dan lain sebagainya.



3. Apabila shalat nafilah muthlaq maka hanya wajib qashdul fi'li (menyengaja melakukan shalat) semata


Penjelasan : shalat sunnah muthlaq merupakan shalat sunnah yang tidak memiliki keterikan waktu, juga tidak memiliki keterikan sebab dan jumlah raka'at, juga bisa dilakukan kapan saja selain pada waktu-waktu yang diharamkan shalat. Apabila melakukannya dengan lebih dari 2 raka’at maka hendaknya bertasyahud setiap mencapai 2 raka’at. Apabila ada tasyahud awalnya maka disunnahkan membaca surah didalamnya sebelum tasyahud awal, namun apabila dikerjakan tanpa tasyahud awal, hanya ada tasyahud akhir maka disunnahkan membaca surah pada setiap raka'at. Adapun yang afdlal (lebih utama, penj) hendaknya dilakukan 2 raka'at dengan satu kali salam.

Padah shalat sunnah muthlaq hanya wajib qashdul fi'li  semata. Contohnya : ushalliy lillaahi ta'alaa (aku menyengaja shalat karena Allah).

(فصل) شروط تكبيرة الإحرام: ستة عشرة أن تقع حالة القيام في الفرض وأن تكون بالعربيه وأن تكون بلفظ الجلالة وبلفظ أكبر والترتيب بين اللفظتين وأن لايمد همزة الجلالة وعدم مد باء أكبر وأن لا يشدد الباء وأن لايزيد واواً ساكنة أو متحركة بين الكلمتين، وأن لايزيد واوا قبل الجلالة وأن لايقف بين كلمتي التكبير وقفة طويلة ولا قصيرة، وأن يسمع نفسة جميع حروفها ودخول الوقت في المؤقت وإيقاعها حال الإستقبال وأن لا يخل بحرف من حروفها وتأخير تكبيرة المأموم عن تكبيرة الإمام.

Fasal tentang syarat takbiratul ihram itu ada 16, yaitu :
  1. Harus dibaca ketika berdiri pada shalat fardlu
  2. Harus dengan bahasa arab
  3. Harus dengan lafadh al-Jalalah (الله).
  4. Harus dengan lafadh Akbar (أكبر).
  5. Harus dibaca tertib antara kedua lafadh tersebut (contohnya Allahu Akbar)
  6. Tidak boleh (dibaca) panjang huruf hamzah -nya lafadh al-Jalalah.
  7. Tidak ada mad (bacaan panjang) pada huruf ba'-nya lafadh Akbar.
  8. Tidak ada tasydid pada huruf ba'-nya.
  9. Tidak boleh ada tambahan wawu sukun atau ber-harakat diantara lafadh al-Jalalah dan Akbar.
  10. Tidak boleh ada tambahan wawu sebelum lafadh al-Jalalah.
  11. Tidak boleh berhenti sebentar atau lama diantara kalimat takbir
  12.  Harus bisa mendengar seluruh huruf-hurufnya (bacaannya)
  13. Harus diucapkan ketika memasuki waktu shalat.
  14. Harus diucapkan ketika menghadap qiblat
  15. Tidak boleh menyela dengan satu huruf pun dari huruf-hurufnyaa
  16. Takbir-nya makmun harus lebih akhir daripada takbir-nya makmum.
(Bersambung...)

Kebenaran hakiki hanya milik Allah
Hamba Allah yang dhaif dan faqir
Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad